DENAH RUANGAN

    FAKULTAS TEKNIK

     

    A.GEDUNG LAMA

    MOOC Virus Pembunuh Pendidikan Orthodox Di Dunia?

                                                                                             Oleh, Fabian J Manoppo

     

    Diera revolusi industry 4.0 saat ini serta memasuki era revolusi industry 5.0 dunia pendidikan di seluruh dunia saat ini sedang diperhadapkan dengan dilema yang cukup serius terhadap statemen 10 perusahaan raksasa seperti dikutip dari halaman https://wolipop.detik.com/

     

    Google menjadi perusahaan idaman banyak orang, terutama mereka yang menimba ilmu di jurusan komputer. Namun meski tidak punya latar belakang pendidikan di bidang tersebut, Anda tetap berkesempatan menjadi karyawan Google.

    Penguin Books Limited, Perusahaan penerbitan ini menghapus prasyarat memiliki gelar pendidikan untuk para pelamar mulai 2016. Dalam lowongan kerjanya, perusahaan itu menyatakan ingin membuka kesempatan dan menarik kandidat yang bervariasi ke dalam dunia penerbitan.    Penguin Books Limited pun lebih melihat pekerja dari sisi potensial, kreativitas, kekuatan, dan ide dari pada akademis.

    Apple. Ingin bekerja di Apple tapi tak punya gelar pendidikan tinggi? Hal tersebut tidak menjadi masalah asal Anda benar-benar potensial. Dilansir Cosmopolitan, pekerja memang dituntut memiliki 'kualitas Apple' namun bukan pendidikan formal.

    IBM, Perusahaan komputer IBM pun tidak mengedepankan gelar sarjana saat mencari pegawai baru. Sang CEO Ginni Rometty mengatakan jika 15% pegawai mereka tidak datang dari universitas namun memang harus punya pendidikan vokasional atau pengalaman. Syarat ini berlaku terutama untuk jabatan, seperti CM Engagement Manager, Privacy Consultant, CRM Architect, atau Compliance Officer.

    Virgin Media, Begitu dengan Virgin Media yang mengklaim tak butuh ijazah untuk para pelamar bisa diterima bekerja. "Kamu tidak butuh gelar atau PhD untuk bisa masuk ke Virgin Media Business. Jika kamu punya banyak common sense, keinginan untuk sukses, keinginan untuk mengedepankan pelanggan, dan mengutamakan kualitas kerja, kamu akan sukses," tulis perushaan di situsnya saat membuka lowongan untuk Sales Executives, Analysts hingga Account Manager.

    Intel, Kemampuan dan kepribadian lebih diutamakan dalam mencari pegawai baru. Saat ini perusahaan teknologi pun lebih melihat bagaimana calon pekerja bisa beradaptasi dengan bisnis dan kemampuan lain yang bisa ditawarkan dari pada gelar. Begitu pun dengan perusahaan Intel."80% posisi kami adalah pekerja teknis dan kebanyakan membutuhkan gelar tertentu tapi kami juga melihat kemampuan di area lain termasuk marketing, keuangan, dan bisnis," kata regional manager Intel kepada Cosmopolitan.

    Hilton,Anda yang bermimpi bekerja di sebuah hotel kenamaan mungkin bisa melirik Hilton. Perusahaan tersebut dikatakan akan memberi pekerja kesempatan untuk belajar dan berkembang tanpa melihat latar belakang pendidikan mereka. Meski tak punya gelar, diharapkan Anda punya pengalaman kerja di industri serupa.

    Starbucks, Tak hanya menawarkan biaya pendidikan untuk para pegawai, Starbucks juga menerima mereka yang datang dari berbagai latar belakang. Termasuk jika tidak punya pendidikan formal. Starbucks lah yang akan membangun fondasi awal karier para pekerja muda."Lebih dari 50% pekerja kami di bawah usia 24 tahun jadi kami ingin sekali mendukung karier awal untuk orang-orang muda. Kami berkomitmen untuk mendukung generasi pekerja baru membangun kemampuan melalui Headstart atau program Apprenticeship tingkat 2-6 kami," tulis Starbucks.     

    PWC, Pada April 2017 lalu, perusahaan audit PWC mengatakan jika para pelamar yang masih mahasiswa bisa mulai bekerja di kantor mereka. Mereka bisa bekerja sebagai akuntan dan konsultan manajemen dengan program magang. Program tersebut juga mendukung para mahasiswa untuk belajar bekerja dan menempa karier dari bawah.

    Ernst & Young, Ernst & Young adalah salah satu firma akuntasi besar pertama yang menghapus persyaratan mengenai latar belakang pendidikan untuk pelamar. Perusahaan itu menyatakan ingin membuka kesempatan untuk semua individu berbakat. Ernst & Young juga membuka magang untuk bidang asuransi, konsultasi hingga pajak.

     

          Menyimak pernyataan terbuka dari beberapa perusahaan raksasa diatas yang lebih mengutamakan kompetensi, kreatifitas dan inovasi daripada kertas kertas ijazah maka ini sebagai pertanda awas bagi dunia pendidikan orthodox di dunia dan di Indonesia yang masih berorientasi pada ijazah daripada kompetensi, kreatifitas dan inovasi. Menteri pendidikan saat ini cukup jeli dengan melahirkan konsep baru yakni kemerdekaan kampus dimana mahasiswa lebih diberi kebebasan dalam belajar, dengan belajar langsung dilapangan terhadap kehidupan nyata yang dibutuhkan dipasar kerja, serta belajar lintas disiplin baik didalam kampus sendiri maupun kontrak matakuliah diluar kampusnya sendiri. Peluncuran metode belajar Kampus Merdeka adalah suatu langkah serius terhadap fakta dilapangan yang mana ijazah dan gelar bukan jaminan melainkan kompetensi yang dibutuhkan dipasar kerja seperti yang yang disampaikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Dengan adanya kebijakan baru ini maka kampus dengan SDM, manajemen serta kurikulum yang masih orthodox menjadi kelabakan untuk beradaptasi. Belum lagi fakta dilapangan lulusan sarjana di Indonesia gaji pertama masuk dunia pasar kerja masih setara dengan upah minimun regional sekitar 3 juta rupiah lihat ulasan saya di http://fatekunsrat.com/menteri/  hal ini semakin menambah rumitnya system pendidikan di Indonesia diera revolusi industri 4.0 dan tidak lama lagi akan memasuki era revolusi industri 5.0.

     

            Fakta fakta lapangan diera revolusi industri 4.0  membutuhkan kompetensi, kreatifitas dan inovasi jauh lebih penting daripada kertas ijazah menyebabkan dunia pendidikan diseluruh dunia mulai beralih dari system orthodox yang masih mengandalkan Gedung, Sumber Daya Manusia, Managemen serta Kurikulum yang harus di laksanakan dalam kurun waktu 4-5 tahun baru mendapat ijazah dan masuk kedunia kerja dimana selain memerlukan biaya juga waktu. Peralihan sistem pendidikan orthodox dunia ke sistem yang lebih praktis dan efisien salah satunya adalah model MOOC (Massive Open Online Courses). MOOC adalah proses belajar mengajarnya yang tidak memerlukan gedung dan ruang kelas lagi tapi cukup belajar secara online virtual class (kelas virtual) atau flip class (kombinasi virtual dan diskusi di kelas). Keuntungan MOOC dibandingkan dengan model pendidikan orthodox selain tidak memerlukan kelas, materi kuliah secara online lewat kelas virtual atau semi virtual (flip class) dapat diakses dari halaman website, dikemas lebih flexible dan tidak perlu regulasi tapi langsung menawarkan konten yang dibutuhkan dipasar kerja dan tentunya biaya menjadi jauh lebih murah serta waktu belajar yang jauh lebih singkat.

     

             Outcomenya berupa jaminan sertifikat yang benar benar sesuai kompetensi pasar. Keuntungan lain materi kuliah lebih flexible dimana jika tidak dibutuhkan dipasar bisa langsung diganti dengan materi kuliah lain yang dibutuhkan, materi kuliah MOOC dapat diakses diseluruh dunia karena di sediakan secara online lewat website. Beberapa universitas besar yang sudah melaksanakan model pembelajaran MOOC adalah Havard University dan Massachusset Institute of Technology (MIT) lewat website https://www.mooc.org/ bukan hanya dua universitas tapi telah diikuti oleh beberapa universitas di seantero dunia. Perkembangan saat ini terhadap proses belajar mengajar yang lebih efektif efisien seperti MOOC tidak saja di laksanakan oleh Universitas ternama di beberapa negara tapi juga telah dilakukan oleh perusahan perusahaan besar seperti Alibaba https://edu.alibabacloud.com/ ;  Udemy https://www.udemy.com/ dan masih banyak lagi dimana umumnya setiap materi dipunggut bayaran untuk memperoleh sertifikat kompetensi walaupun ada juga yang gratis.

     

              Bagaimana dengan kondisi MOOC di Indonesia apakah sudah ada regulasi yang mendukungnya atau paling tidak universitas serta swasta yang melaksanakannya?. Dari pantauan kami model pembelajaran online sudah ada seperti yang dilakukan oleh universitas terbuka atau model pendidikan jarak jauh Daring (SPADA), namun kontennya masih sama dengan system pendidikan yang orthodox dimana masih menggunakan kurikulum serta dalam jangka waktu 4-5 tahun untuk gelar sarjana.

                Melihat kondisi diatas maka menurut kami sistem pendidikan MOOC merupakan ancaman serius terhadap sistem pendidikan orthodox yang sekarang sedang diupayakan oleh Menteri Pendidikan yang baru secara revolusioner dirubah untuk lebih merdeka lagi, dimana hal ini tidak cukup karena di era revolusi industry 5.0 prediksi kami akan kalah dengan sistem pembelajaran modern seperti MOOC atau ICloud Learning Sistem. JIka tidak diantisipasi segera paling tidak seperti yang dilakukan oleh universitas besar yakni Havard, MIT serta perusahan perusahan besar seperti Alibaba, Udemy maka 10-20 tahun kedepan akan ada banyak universitas di Indonesia yang ditutup karena manusia cenderung mencari jaminan mendapat pekerjaan yang dibutuhkan dipasar kerja dengan jaminan gaji yang baik dimana lapangan kerja tidak lagi membutuhkan ijazah perguruan tinggi.

     

               Universitas Sam Ratulangi lewat Fakultas Teknik secara perlahan mulai melakukan persiapan membiasakan diri  model pendidikan online berbasis website http://fatekunsrat.com seperti MOOC dengan menggunakan metode pembelajaran E-Learnig Moodle, Open Course Ware  (OCW), Daring (SPADA) bekerja sama dengan beberapa universitas baik yang ada di Indonesia maupun diluar negeri untuk mengantisipasi jika kelak regulasi memungkinkan untuk dilaksanakan model pembelajaran seperti MOOC. Untuk suksesnya MOOC di Indonesia maka Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal yang mempunyai kemampuan melihat peluang melepas lulusan sesuai kebutuhan pasar kerja yang dinamis dimana setiap saat berubah dan harus bersaing secara internasional adalah merupakan salah satu syarat yang penting. Suka atau tidak suka sistem pendidikan di Indonesia akan berhadapan dengan kondisi ini dan kita sebagai pelaku pendidikan harus segera berbenah diri sebelum terkena Virus MOOC atau sejenisnya yang akan mematikan dunia pendidikan orthodox.

     

     

    gallery/massive-open-online-course

    Sumber ilustrasi gambar dibawah : Wikipedia